Bayangan yang Patut Disalahkan

Sesal berdiri di depan cermin yang berdebu di sudut kamar. Tatapannya menembus pantulan dirinya—wajah yang dulu penuh percaya diri, kini terlihat hampa. Kantung matanya menghitam, bibirnya pecah-pecah, dan gurat lelah membayang di seluruh wajahnya.

Dia menghela napas panjang, seolah udara berat yang memenuhi dadanya ingin dia hembuskan bersamaan dengan semua kesedihan. Tapi itu sia-sia.

"Kenapa semuanya berantakan?" gumamnya pelan.

Pikirannya kembali melayang ke kantor, di mana proyek besar yang dia pimpin gagal total. Alih-alih mencari solusi, dia memilih menyalahkan timnya.

"Semua ini salah kalian! Kalau saja kalian bekerja lebih keras, proyek ini pasti berhasil!" bentaknya waktu itu. Tatapan dingin dari rekan-rekannya masih membekas di ingatannya, seakan diam-diam mereka menyimpan luka atas kata-kata tajamnya.

Namun, amarahnya tak berhenti di sana. Sesampainya di rumah, frustrasinya meluap-luap, dan keluarganya menjadi sasaran berikutnya.

"Kenapa rumah ini selalu ribut? Aku nggak pernah punya waktu untuk istirahat! Kalian hanya membuat aku makin stres!" teriaknya pada istrinya, yang memilih diam sambil memeluk anak mereka yang ketakutan.

Kini, di depan cermin, semuanya terulang kembali. Seperti film buruk yang tak bisa dia hentikan.

"Kenapa aku selalu seperti ini?" bisiknya, hampir tak terdengar.

Dia menatap pantulan di depannya. Wajah itu... begitu familiar, tetapi sekaligus terasa asing. Wajah yang dia kenal, tetapi tidak lagi dia hormati.

"Kalau saja mereka lebih baik..." kata-katanya terhenti. Sesuatu dalam hatinya mencubit. Bayangannya di cermin tetap diam, hanya menatap balik dengan dingin.

Sesal menggelengkan kepala.

"Tidak... mereka tidak salah," katanya pelan. "Timku sudah bekerja keras. Keluargaku hanya ingin aku ada untuk mereka."

Dia merasakan dadanya sesak, seperti ada beban yang tak pernah dia akui selama ini. Air mata mengalir perlahan di pipinya, mengaburkan pandangannya.

"Aku yang salah..." bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku selalu mencari alasan. Selalu mencari orang lain untuk disalahkan."

Tangannya menyentuh permukaan dingin cermin, seolah ingin menyentuh bayangannya di sana.

"Dan sekarang," katanya dengan suara gemetar, "satu-satunya yang tersisa untuk disalahkan adalah orang yang ada di dalam kaca ini."

Air mata jatuh semakin deras. Sesal berdiri diam, membiarkan kata-katanya bergema di dalam kamar. Dia tidak mencoba melawan, tidak lagi mencari pembenaran. Hanya dia dan bayangan dirinya, yang sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sesal menyesal.

Cara paling mudah untuk merendahkan kualitas diri adalah dengan terus-menerus menyalahkan orang lain. Mengapa kita sibuk mencari kesalahan di luar diri kita, padahal belum tentu hal itu bisa diubah? Daripada terus menyalahkan keadaan, mengapa tidak mulai dengan merubah diri sendiri? Karena perubahan sejati dimulai dari dalam diri kita, dan hanya kita yang memiliki kekuatan untuk melakukannya.

Penulis: wisnu.sept

Posting Komentar

0 Komentar